Saturday, 5 April 2014

Rahasia Tangis Bayi


Rahasia Tangis Bayi  Ayahbunda.co.id
Image by : Dokumentasi Ayahbunda
Tangis bayi memiliki pola. Penelitian menemukan 5 perbedaan tangisbayi yang disuarakan oleh bayidi seluruh dunia.Bayi punya bahasa universal dan mengandung arti yang sama. Lima tangiasan ini kedengarannya sama, tetapi bila didengarkan dengan sangat teliti, Anda bisa membedakannya. Kesamaan tangisan ini hanya berlaku untuk bayi 0-3 bulan, dan sering diucapkan oleh bayisebelum ia menangis.
  • “Neh” = “Aku lapar.” “neh” diucapkan bayi baru lahir berdasarkan reflex mengisap.Bayi baru lahir punya reflex mengisap yang sangat kuat, dan ketika bayimengombinasikan bunyi “neh” dengan tangis, menghasilkan bunyi “neh.” Begitu ANda mendengarkan bunyi ini dari mulut bayi, segera beri dia susu.
  • “Owh” = “Aku ngantuk.” bunyi ini didasarkan pad arefleks menguap. Bunyi “owh” yang pertama biasanya terdengar cukup panjang. Ketika mendengar bunyi ini, bantubayi untuk tidur, jangan tunggu sampai menangis. Semakin lelah bayi, akan semakin sulit tidur. Perhatikan isyarat seperti mengusap mata dan menguap.
  • “heh” = “Rasanya nggak enak, nih.” Sangat terdengar berbeda dengan “neh” karena bunyi “h” sangat jelas. Bunyi ini pertanda bayi buang air besar atau kecil, dan minta diganti popok.
  • “Eair” = “Perutku kembung.” Ketika bayi merasakan ada gas di perutnya, reflex kakinya mengangkat ke arah perut dan mulutnya berbunyi “eair.” Suara ini akan terdengar ketika bayi merasa ada tekanan di perutnya. Gas di perut bisa membuatnya sakit perut dan rewel.
  • “Eh” = “Aku mau sendawa.” Bayi butuh sendawa. Bila And amendengar ia mengucapkan “eh,” bantu dia untuk sendawa. Tangisan yang mengandung kat aini akan diucapkan pendek, secara berulang. Dengan hati-hati, letakkan bayi di bahu atau diatas perut Anda dalam posisi telungkup dan tepuk-tepuk perlahan punggungnya.

INDONESIA=NUSANTARA

13934718871015563506

Adalah Arkand Bodhana Zeshaprajna yang memboomingkan usul ganti nama Nusantara ini. Rasa-rasanya usul ini amat pantas dijadikan bahan diskusi dan bahan kajian generasi muda. Ya agar mengenali akarnya. Akar yang makin dijauhi oleh buah-buahnya yang tergantung. Makin tidak cinta dan makin tidak tahu siapa leluhur yang telah membesarkan.
Alasan Arkand, seperti dilansir merdeka.com, nama Nusantara sudah melekat dan mendarah daging dalam benak rakyat Indonesia. Nama tersebut menurut Arkand memiliki potensi menjadi simbol dan semangat mempersatukan rakyat Indonesia dengan wilayah, suku, pulau, agama yang jumlah besar dan beragam.
Alasan lainnya, jika ingin memperbaiki negara, imbuh Arkand, haruslah mencari satu nama yang disetujui semua pihak. Nama Nusantara, papar Arkand, sudah akrab dan berpotensi lebih disetujui. Arkand juga menandaskan, nama Indonesia dalam dunia metafisika tidak memberi energi yang positif bagi bangsa bangsa.
“Nama dibutuhkan untuk memanggail seseorang atau objek. Nama bukanlah sekedar kata atau kumpulan kata, melainkan mengandung ideasi dan energi. Ilmu fisika menyebut energi bersifat kekal. Tidak bisa diciptakan dan tidak bisa dimusnahkan. Segala sesuatu di alam semesta ini memiliki energi, termasuk nama,” terangnya.
Lebih lanjut, ia menambahkan, negara-negara maju memiliki struktur nama yang berkualitas dan negara-negara yang belum maju dan tetap miskin memiliki struktur nama yang berkualitas rendah.
“Alam semesta dan isinya, berjalan dalam keteraturan yang pasti, dalam satu sistem besar yang pasti. Sistem besar dan seluruh sub-sub sistem di dalamnya adalah manifestasi dari energi yang kekal. Energi itu juga bekerja dalam pikiran manusia,” demikian dalam tulis Arkand dalam situsnya.
Untuk mengukuhkan teorinya, Arkand menjelaskan dalam teori lima lapisan pikiran manusia, yaitu; conscius mind, Subconscius mind, supramental mind, subliminal mind, dan lapisan pikiran subtle causal mind. Menurutnya, terdapat dua pola kerja pikiran, yaitu gambar dan kata-kata. Bagian gambar dalam 3 lapisan teratas, sedangkan kata-kata bekerja di seluruh lapisan pikiran. kata-kata yang bekerja dalam pikiran yang menjadi identitas diri adalah kata-kata yang digunakan sebagai nama diri.
Nama diri tersebut, membentuk energi dan bekerja dalam pikiran manusia. Lantas, membentuk karakter.
Teori Coherence Value
Untuk menganalisa seberapa berkualitas sebuah nama, Arkand menggunakanTeori Coherence Value. Dilansir dari situsnya, arkand.com, teori Coherence Value adalah parameter yang menunjukkan tingkat kekuatan struktur kode-kode dalam diri sendiri yang saling berkaitan antara satu kode dengan kode lainnya. Rentang coherence Value adalah 0.1-1.0, dengan rentang positif ada di 0.7-1.0.
Coherence Value, dalam kehidupan terlihat dalam kemampuan menguasai satu atau beberapa keahlian. Semakin tinggi Coherence Value, maka semakin mampu menguasai satu atau beberapa bidang keahlian. Perbedaan antara satu orang dengan orang lain, ditentukan oleh faktor-faktor seperti coherence synchonicity Value dan Composition of character.
Untuk nama Indonesia, hanya memiliki coherence value 0,2 yang jauh dari kata bagus untuk dijadikan nama. Sayang sekali, untuk menjabarkan teori ini saya sendiri tidak paham sama sekali. Jadi, saya cuma bisa main copas dari situs Arkand. Untuk pemaparan lebih jelas saya hanya bisa menggigit bibir saja. bingung, plus bikin kribo perasaan.
Ya Setuju, Ganti Saja Jadi Nusantara!
Mencerna teori nama Arkand cukup mengerutkan pikiran. Namun demikian, saya sepahat lan sebatu dengan prinsip pandangan Arkand. Pertama, tentang kedekatan emosional antara nama dengan objek yang dinamai. Secara emosional, nama Indonesia memang berasa asing dan hambar pemaknaan dalam pikiran, sehingga cenderung tak melekat dalam benak.
Ya, nama Indonesia adalah bahasa asing. Saya pribadi belum tahu arti dan berasal bahasa mana istilah Indonesia ini. Namun dalam fakta sejarah, dilansir wikipedia, nama Indonesia dicetuskan pertama kali oleh adalah orang Inggris, George Samuel Windsor pada tahun 1850 dalam jurnal of the indian archipelago and eastern asia. Ia mengusulkan dua nama, yaitu Malayunesia dan Indunesia karena kepulauan yang dimaksud menggunakan bahasa Melayu.
Pada tahun 1920, nama Indonesia kemudian diambil oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan. Masih dalam wikipedia, Bung Hatta menuliskan,
Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (de toekomstige vrije Indonesische staat) mustahil disebut “Hindia-Belanda”. Juga tidak “Hindia” saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (een politiek doel), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air pada masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesiër) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya.
Kedua, ketidakraban secara makna dan emosional secara psikologis memang memiliki dampak pada perilaku. Dalam teori Schachter, kongnitif memiliki kaitan dengan bangkitnya suasana emosionalitas seseorang. Misalnya adalah menggambarkan informasi masa lalu yang telah tersimpan dalam otak dan persepsi untuk memancing munculnya gejolak emosi di saat tertentu di masa yang silam.
Dalam hal ini, nama Indonesia tidak memiliki secara psikologis dalam sejarah lampau masyarakat Indonesia. Ya jelas, nama Indonesia yang memberikan adalah orang asing. Secara makna juga masyarakat kita tidak melekat, karena secara arti juga barangkali orang Indonesia tidak mengetahui makna (arti) nama bangsanya sendiri. Maka, wajar jika disebut nama Indonesia tidak memunculkan gejolak yang berarti. Barangkali, sisi pemuncul rasa emosional adalah karena terdapat proses sejarah bernama deklarasi kemerdekaan. Tidak lebih. Padahal, negeri sudah ada jauh sebelum kemerdekaan diraih.
Hal ini tentu berbeda dengan nama Nusantara. Asal kata Nusantara berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu nusa yang berarti pulau, dan antara yang berarti luar. Selanjutnya, Nusantara digunakan untuk menggambarkan pulau-pulau di luar Majapahit. Napak tilas nama ini adalah sumpah Gajah Mada dalam kitab Pararaton. Dikutip dari http://legendanusantara.wordpress.comSira Gajah Mada Patih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada, “Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tañjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa”.
(Beliau Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa. Ia Gajah Mada, “Jika telah mengalahkan nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seran, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa”.)
Nama Nusantara Punya Daya Ledak
13934720471920710652
harunjaya33.wordpress.com
Dari sini, sudah bisa disimpulkan bahwa nama Nusantara memiliki sejarah emosional yang kuat dalam lubuk dan pikiran masyarakat negeri ini, karena nama Nusantara adalah bahasa ibu. Kita juga tahu bahwa bahasa Sanskerta juga banyak digunakan untuk nama-nama tempat, bangunan dan orang di tanah air. Bukti betapa menyatunya bahasa ini dengan kejiwaan masyarakat tanah air.
Dalam arti kata, ketika disebut kata Nusantara, maka engan seketika semua masyarakat kita pasti akan langsung muncul gambar-gambar para leluhurnya. Ingatan akan para leluhur, tentu saja akan merangsang merebaknya keharuan, kecintaan, dan kerinduan yang amat dalam. Bukan hanya itu, secara seiring ingatan akan leluhur juga akan mengingatkan mereka akan petuah, nilai dan pesan-pesan leluhur-leluhur tersebut.
Penjelasan lebih sederhana akan efek nama ini adalah kasus phobia. Misalnya adalah phobia kucing. Seseorang yang phobia kucing, maka munculnya kucing dapat memunculkan daya takut yang menggelapkan. Ia bisa saja pingsan karenanya. Kucing, pada dasarnya adalah gambaran pengalaman masa yang silam mengenai sosok kucing, di mana ia pernah dicakar hingga berdarah. Rasa takut akan dicakar lantas masuk alam bawah sadar, dan muncul dalam bentuk phobia.
Dalam fenomena percintaan, lagu-lagu tertentu dapat menjadikan suasana riang jadi diselimuti kedukaan, manakala terdengar sebuah lagu yang terputar, yang dulu lagu tersebut pernah bersamaan diputar ketika ia menyaksikan sang kekasih berdua mesra dengan pria lain.
Kesimpulan akhirnya, nama Nusantara memiliki sumbu dengan akar emosional masyarakat, ketimbang nama Indonesia yang tak punya akar secara emosional. Ia mampu merangsang daya ledak kebangsaan, kekeluargaan, dan kesatuan antarsesama yang lahir di tanah yang sama dan leluhur yang sama.
Ingatan akan Kerajaan Sriwijaya. Ingatan akan Kerajaan Majapahit!
Salam berkobar-Kobar …
1393471991270523926
herrynurdi.com

Jokowi-Gita=Ideal

Merdeka.com - Tidak hanya di dalam survei presiden, nama Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo ( Jokowi ) ternyata keluar sebagai yang pemenang di antara calon presiden lain bila dilihat dari ilmu metafisika. Bahkan, mantan Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan dinilai cocok sebagai pasangan duet Jokowi nanti.

Hal itu diungkapkan Arkand Bodhana Zeshaprajna, pria yang belasan tahun mempelajari metafisika. Menurutnya, nama Jokowi memiliki struktur yang baik. Namun bukan berarti mantan Wali Kota Surakarta itu menjadi presiden paling baik.

"Ya memang strukturnya baik ya. Tapi saya tidak mengatakan dia (Jokowi ) presiden yang terbaik ya, bukan. Karen kalau mau dilihat detail-detail untuk suatu negara yang besar kita harus punya struktur yang lebih kuat lagi sebenarnya," kata Arkand kepada merdeka.comdi Jakarta, Rabu (26/2) malam.

Namun, diakuinya, percobaan membuat susunan capres dan cawapres tersebut merupakan hal 'lucu-lucuan' Arkand bersama sebuah tim stasiun televisi untuk sebuah program acara talk show. Lantaran, dirinya ogah dianggap menjadi tim sukses salah satu capres.

"Cuma tadi itu seperti games lah, lucu-lucu. Ini permintaan tim (televisi) itu untuk mengombinasi nama-nama (capres dan cawapres) itu," jelasnya.

Terkait kecocokan antara Jokowi dan Gita, dirinya menjelaskan, bahwa keduanya memiliki poin terbaik di antara pasangan 'coba-coba' lainnya. Bahkan, ketika dicek memakai ilmunya, keduanya merupakan kombinasi terbaik.

"Kalau dari tim value yang dibentuk pasangan Jokowi dan Gita itu mendapat poin 1, dengan skala 0,1 sampai 1. Artinya itu kombinasi yang terbaik," ungkapnya.

Seperti diketahui, Arkand yang juga doktor University of Metaphysics International Los Angeles, California, Amerika Serikat itu tetap bersikukuh jika nama Nusantara adalah nama terbaik untuk pengganti nama Indonesia. Sebab, menurutnya, dalam struktur nama Nusantara tak mempunyai angka merah dan bisa membuat kehidupan yang semakin baik untuk orang-orang yang berada di dalamnya kelak.

Analisa Arkand juga bukan tanpa alasan, dia sudah membuat piranti lunak atau software untuk menganalisa hitungan-hitungan struktur nama yang baik.

Merubah Indonesia Menjadi Nusantara

Merdeka.com - Ahli metafisika Arkand Bodhana Zeshaprajna memperjuangkan nama Indonesia segera diganti. Doktor lulusan University of Metaphysics International Los Angeles, California, Amerika Serikat ini menjelaskan kalau tak segera ganti nama, Indonesia akan hancur tahun 2020.

"Di sana ada satu garis waktu, justru kita bisa lihat polaritas-polaritas negatif. Nah kita sudah melewati 2 fase negatif polarity, nanti kita lewati lagi satu, di 2014 sampai 2023 dengan puncak tahun 2020," kata Arkand kepada merdeka.com di Jakarta, Rabu (26/2)

Pria bernama asli Emmanuel Alexander ini menjelaskan, tidak ada satu negara maupun perusahaan yang mampu melewati tahapan negatif yang memuncak seperti itu. Maka dari itu, dirinya tetap optimis nama Indonesia diubah menjadi Nusantara.

"Dalam fase negatif seperti itu, jarang sekali hampir tidak pernah bahkan, bila satu perusahaan atau negara dengan polaristas fase memuncak tak bisa melampauinya. Tak pernah ada. Jadi kita sangat berbahaya bila kita tak menggunakan nama nusantara," jelasnya.

Menurut Arkand, gejala kehancuran Indonesia bisa dirasakan di tahun ini dan tahun depan. Dirinya pun menyebut bahwa mempertahankan nama Indonesia sebagai hal yang nekat.

Arkand mengusulkan nama Indonesia diganti menjadi nusantara. Lengkapnya, Republik Indonesia diganti Viranegari.

"Nanti satu kata menambahkan, kata Viranegari untuk mengoptimalkan. Jadi di depan Nusantara ditambah Viranegari. Jadi 'Viranegari Nusantara' untuk mengoptimalkan, jadi namanya lebih baik," kata Arkand.

Namun Arkand tak mau segera mengganti republik menjadi Viranegari. Dia lebih fokus menggolkan nama nusantara.

"Jangan langsung ke sana, kita fokus ke Nusantara dulu. Nanti kalau semua sudah punya kesepakatan untuk memajukan negeri ini dengan nama Nusantara, baru di situ kita menambahkan. Kita ganti nama Republik menjadi Viranegari," ungkapnya.

Nama Indonesia dinilai tak membawa keberuntungan. Asal usulnya pun dari Hindia Island, atau kepulauan Hindia. Padahal Indonesia tentu bukan India. Sementara Nusantara sudah digunakan untuk menyebut rangkaian kepulauan di Indonesia.

Ganti nama bagi suatu negara bukan hal tabu. Siam berganti jadi Thailand, Burma jadi Myanmar dan Ceylon jadi Sri Lanka. Kazakhstan pun ingin ganti nama jadi Kazakh Elli karena tak mau disamakan dengan negara miskin beraliran stan di Asia Tengah.

Seniman Ray Sahetapy juga mendukung Indonesia ganti nama saja dengan Nusantara yang populer lebih dulu.

"Berdasarkan kondisi fisik dan karakter bangsa ini, saya lebih nyaman menyebut bangsa Indonesia dengan istilah Nusantara," ujar Ray dalam diskusi 'membedah ke-Indonesia-an' bersama budayawan, beberapa waktu lalu.

"Nama Indonesia itu kan asing. Nggak ada maknanya lagi. Kalau Nusantara kan berarti semua orang-orang di kepulauan ingin bersatu," tambah Ray. 

Sementara itu sejumlah politikus menyatakan penolakan mereka. Wakil Ketua Komisi II DPR Arif Wibowo menyatakan Indonesia akan kehilangan akar sejarah kalau sampai ganti nama.

Bagaimana dengan anda?